Kamis, 09 Desember 2010

Artikel Agama Islam tentang Diniyatul Awaliyah

AKTIVITAS SISWA DALAM MENGIKUTI KEGIATAN DINIYATUL AWALIYAH HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A. Aktivitas siswa dalam Mengikuti Kegiatan Diniyatul Awaliyah
1. Pengertian Aktivitas
Untuk memahami tentang pengertian aktivitas siswa, penulis memandang perlu untuk mengemukakan berbagai pendapat para ahli. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, bahwa aktivitas diartikan sebagai; (1) keaktifan, kegiatan, kesibukan; (2) kerja atau salah satu kegiatan kerja yan dilaksanakan dalam tiap bagian di dalam perusahaan (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989:17). Sedangkan menurut Sardiman A.M (2008:100), pengertian aktivitas dalam proses belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Sehubungan dengan hal ini, Piaget (Sardiman A.M., 2008:100) menerangkan bahwa seseorang anak itu berpikir sepanjang ia berbuat. Tanpa perbuatan berarti anak itu tidak berpikir. Oleh karena itu agar anak berpikir sendiri maka harus diberikan kesempatan untuk berbuat sendiri. Berpikir pada taraf verbal baru akan timbul setelah anak itu berpikir pada taraf perbuatan.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa aktivitas itu dalam arti luas baik yang bersifat luas baik yang bersifat fisik/jasmani maupun mental/rohani. Kaitan antara keduanya akan membuahkan aktivitas belajar yang optimal.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Siswa
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pada diri seseorang, menurut Ngalim Purwanto (2004:107) terdiri atas dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Secara rinci kedua faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Faktor Internal
Faktor internal adalah seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu yang belajar, baik aspek fisiologis (fisik) maupun aspek psikologis (psikhis).
1) Aspek Fisik (Fisiologis)
Orang yang belajar membutuhkan fisik yang sehat. Fisik yang sehat akan mempengaruhi seluruh jaringan tubuh sehingga aktivitas belajar tidak rendah. Keadaan sakit pada pisik/tubuh mengakibatkan cepat lemah, kurang bersemangat, mudah pusing dan sebagainya. Oleh karena itu agar seseorang dapat belajar dengan baik maka harus mengusahakan kesehatan dirinya (Ngalim Purwanto, 1992:107).
2) Aspek Psikhis (Psikologi)
Menurut Sardiman A.M (2008:45), sedikitnya ada delapan faktor psikologis yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan aktivitas belajar. Faktor-faktor itu adalah perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat dan motif. Secara rinci factor-faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
(a) perhatian
Perhatian adalah keaktipan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu obyek, baik didalam maupun di luar dirinya (Abu Ahmadi, 2003:145). Makin sempurna perhatian yang menyertai aktivitas maka akan semakin sukseslah aktivitas belajar itu. Oleh karena itu, guru seharusnya selalu berusaha untuk menarik perhatian anak didiknya agar aktivitas belajar mereka turut berhasil.
(b) pengamatan
Pengamatan adalah cara mengenal duia riil, baik dirinya sendiri maupun lingkungan dengan segenap panca indera. Karena fungsi pengamatan sangat sentral, maka alat-alat pengamatan yaitu panca indera perlu mendapatkan perhatian yang optimal dari pendidik, sebab tidak berfungsinya panca indera akan berakibat terhadap jalannya usaha pendidikan pada anak didik. Panca indera dibutuhkan dalam melakukan aktivitas belajar (Sardiman, 2008:45)
(c) tanggapan
Tanggapan adalah gambaran ingatan dari pengamatan, dalam mana obyek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu pengamatan. Jadi, jika prosese pengamatan sudah berhenti , dan hanya tinggal kesan-kesannya saja. {Abu Ahmadi, 2003:64) atau bekas yang tinggal dalam ingatan setelah orang melakukan pengamatan. Tanggapan itu akan memiliki pengaruh terhadap prilaku belajar setiap siswa (Sardiman, 2008:45).
(d) fantasi
Fantasi adalah sebagai kemampuan jiwa untuk membentuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan, keadaan-keadaan yang akan mendatang. Dengan pantasi ini, maka dalam belajar akan memiliki wawasan yang lebih longgar karena dididik untuk memahami diri atau pihak lain (Abu Ahmadi, 2003:78).
(e) ingatan
Ingatan (memori) ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kesan-kesan. Jadi ada tiga unsur dalam perbuatan ingatan, ialah : menerima kesan-kesan, menyimpan, dan mereproduksikan. Dengan adanya kemampuan untuk mengingat pada manusia ini berarti ada suatu indikasi bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali dari sesuatu yang pernah dialami. (Abu Ahmadi, 2003:70).
(f) bakat
Bakat adalah salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Hal ini dekat dengan persoalan intelegensia yang merupakan struktur mental yang melahirkan :kemampuan” untuk memahami sesuatu. Kemampuan itu menyangkut: achievement, capacity dan aptitude (Sardiman, 2008:46).
(g) berfikir
Berfikir adalah merupakan aktivitas mental untuk dapat merumuskan pengertian, mensintesis dan menarik kesimpulan (Sardiman, 2008:46).
(h) motif
Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Apabila aktivitas belajar itu didorong oleh suatu motif dari dalam diri siswa, maka keberhasilan belajar itu akan mudah diraih dalam waktu yang relative tidak cukup lama (Sardiman, 2008:46).
b. Faktor Eksternal
Menurut Ngalim Purwanto (2004:102-106), faktor eksternal terdiri atas: 1), keadaan keluarga, 2) guru dan cara mengajar 3), alat-alat pelajaran, 4) motivasi sosial, dan 5) lingkungan serta kesempatan. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan dibawah ini:
1) keadaan keluarga
Siswa sebagai peserta didik di lembaga formal (sekolah) sebelumnya telah mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga. Di keluargalah setiap orang pertama kali mendapatkan pendidikan. Pengaruh pendidikan di lingkungan keluarga, suasana di lingkungan keluarga, cara orang tua mendidik, keadaan ekonomi, hubungan antar anaggota keluarga, pengertian orang tua terhadap pendidikan anak dan hal-hal laainnya di dalam keluarga turut memberikan karakteristik tertentu dan mengakibatkan aktif dan pasifnya anak dalam mengikuti kegiatan tertentu.
2) guru dan cara mengajar
Lingkungan sekolah, dimana dalam lingkungan ini siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar, dengan segala unsur yang terlibat di dalamnya, seperti bagaimana guru menyampaikan materi, metode, pergaulan dengan temannya dan lain-lain turut mempengaruhi tinggi rendahnya kadar aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
4) alat-alat pelajaran
Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak-anak.
4) motivasi sosial
Dalam proses pendidikan timbul kondisi-kondisi yang di luar tanggung jawab sekolah, tetapi berkaitan erat dengan corak kehidupan lingkungan masyarakat atau bersumber pada lingkungan alam. Oleh karena itu corak hidup suatu lingkungan masyarakat tertentu dapat mendorong seseorang untuk aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar atau sebaliknya.
5) lingkungan dan kesempatan
Lingkungan, dimana siswa tinggal akan mempengaruhi perkembangan belajar siswa, misalnya jarak antara rumah dan sekolah yang terlalu jauh, sehingga memerlukan kendaraan yang cukup lama yang pada akhirnya dapat melelahkan siswa itu sendiri. Selain itu, kesempatan yang disebabkan oleh sibuknya pekerjaan setiap hari, pengaruh lingkungan yang buruk dan negative serta factor-faktor lain terjadi di luar kemampuannya. Faktor lingkungan dan kesempatan ini lebih-lebih lagi berlaku bagi cara belajar pada orang-orang dewasa.

3. Indikator Aktivitas Siswa
Indikator siswa di sekolah tidak hanya terbatas kepada kegiatan mencatat atau mendengar saja, tetapi aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar itu banyak sekali. Seperti dikemukakan oleh Paul B. Diedrich (Sudirman, 2008:101) bahwa terdapat 177 macam kegiatan peserta didik, yang antara lain digolongkan sebagai berikut:
1. Visual activies, seperti: membaca dan memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
2. Oral activies, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, berdiskusi, interupsi.
3. Listening activities, seperti: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
4. Writing activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket, dan menyalin.
5. Drawing activities, seperti: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
6. Motor activities, seperti: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model merevarasi, bermain, berkebun, memelihara hewan.
7. Mental activities, seperti: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8. Emotional activities, seperti: menaruh minat, rasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Sementara itu Wasty Sumanto (1998:107-113) mengemuakan bahwa aktivitas-aktivitas yang termasuk belajar yaitu mendengarkan, memandang, meraba, membau dan mencicipi, menulis atau mencatat, membaca, membuat ikhtisar atau ringkasan, mengamati table-tabel, menyusun paper, mengingat, berfikir, latihan atau praktek.
Dari kedua pendapat diatas, dapat diambil benang merah tentang indikatao-indikatar aktivitas siswa, yang lebih rinci dan jelasnya akan diuraikan dibawah ni:
a. Mendengarkan
Dalam proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di luar sekolah, sering guru itu menyampaikan materi pelajarannya menggunakan metod ceramah dan tugas peserta didik adalah mendengarkan. Begitu pula pada proses kegiatan Diniyatul Awaliyah, guru dalam menyampaikan materi menggunakan metode ceramah dan siswa atau santri mendengarkannya. Apabila kegiatan mendengar mereka tidak didorong oleh kebutuhan, kemauan, motivasi dan tujuan tertentu maka sia-sialah pekerjaan mereka (Wasty Soemanto, 1998:108).
Adapun yang dimaksud dengan mendengarkan di sini adalah keadaan aktif siswa dalam menyimak dan memahami penjelasan yang disampaikan oleh pendidik mengenai suatu materi.Jadi dengan mendengarkan itu, siswa sudah dikatakan ikut aktif terlibat dalam proses belajar mengajar, misalnya siswa dituntut untuk mendengarkan penjelasan materi pendidikan akhlak sehingga mereka dapat memusatkan perhatian dan pendengarannya untuk dapat membuat pengertian, pendapat dan kesimpulan dari suatu materi yang ia dengarkan.
b. Menulis atau Mencatat
Tidak setiap aktivitas mencatat adalah belajar. Aktivitas yang bersifat meniru, menjiplak atau mengkopi adalah tidak termasuk sebagai aktivitas belajar. Mencatat yang termasuk belajar yaitu apabila dalam mencatat itu orang menyadari kebutuhan dan tujuan, serta menggunakan set tertentu agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian tujuan belajar. Tanpa menggunakan set belajar maka catatan yang dibuat, tidak mencatat apa yang mestinya di catat (Wasty Soemanto, 1998:109).
Dengan demikian, mencatat atau menulis memiliki peran yang penting dalam proses belajar mengajar, karena dengan mencatat atau menulis sebagai sarana pengalihan ilmu yang tadinya dimiliki pendidik menjadi dimilki oleh anak didik
c. Mengingat
Menurut Abu Ahmadi (2003:70) bahwa yang dimaksud dengan mengingat /ingatan adalah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan merekprodusikan kesan-kesan.mengingat yang didasari oleh kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut adalah termasuk aktivitas belajar, apalagi jika mengingat itu berhubungan dengan aktivitas-aktivitas belajar lainnya.
Mengingat dalam proses pendidikan keadaan aktifnya siswa dalam menerima dan menyimpan materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik, oleh karana itu, siswa dituntut untuk mengingat materi yang telah ia dapatkan sehingga dapat menghasilkan kembali kewsan-kesan atau tanggapan.
d. Berfikir
Berfikir adalah merupakan aktivitas psikis yang intensional, dan terjadi apabila seseorang menjumpai problema (masalah) yang harus di pecahkan. Dengan demikian bahwa dalam berpikir itu seseorang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainnya dalam rangka mendapatkan pemecahan persoalan yang dihadapi. Dengan mana, pengertian-pengertian itu merupakan bahan atau materi yang digunakan dalam proses berfikir. Dalam pemecahan persoalan individu membeda-bedakan, memprsatukan, dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan : mengapa, untuk apa, bagaimana, di mana dan lain sebagainya (Abu Ahmadi, 2003:81).
Dari ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa dalam proses belajar mengajar, berfikir merupakan senjata yang paling ampuh untuk mencapai tujuan pendidikan, dan dengan berfikir mereka dapat memusatkan perhatian dan fikirannya untuk dapat membentuk pengertian, pendapat dan kesimpulan mengenai suatu materi pelajaran.
e. Membaca
Membaca buku pelajaran sambil berbaring santai di tempat tidur hanya dengan maksud agar ia bias tidur. Membaca semacam ini bukan aktivitas belajar. Belajar adalah aktif, dan membaca untuk keperluan belajar hendaknya dilakukan di meja belajar dari pada ditempat tidur, karena dengan sambil tiduran itu perhatian dapat terbagi. Belajar memerlukan set. Membaca untuk keperluan belajar harus pula menggunakan set. Membaca dengan set misalnya dengan memulai memperhatikan judul-judul bab, topic-topik utama dengan berorientasi kepada kebutuhan dan tujuan. Kemudian memilih topik yang relevan dengan kebutuhan atau tujuan itu. (Wasty Soemanto, 1998:110).
f. Mengajukan atau menjawab pertanyaan
Proses kegiatan belajar mengajar merupakan interaksi timbale balik antara pendidik dengan peserta didik, dan dalam interaksi ini terkadang timbul pertanyaan dari peserta didik. Dalam kenyataannya, tidak semua peserta didik dapat bertanya atau tidak semua materi yang diberikan oleh pendidik menjadi bahan pertanyaan. Hal ini terjadi karena ada unsur lain yang turut mendukung yaitu unsure guru. Oleh karena itu seorang guru/pendidik dituntut dapat menyajikan materi pelajaran dengan baik, benar dan dapat difahami anak didik, tidak monoton dan tidak laku. Dan hendaknya seorang pendidik memberikan kesempatan siswanya untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan materi yang tidak mereka pahami secara jelas.
g. Latihan dan Praktek
Latihan dan praktek adalah termasuk aktivitas belajar. Orang yang melaksanakan latihan dan praktek tentunya yang dapat mengembangkan sesuatu aspek pada dirinya. Orang yang berlatih dan berpraktek sesuatu tentunya menggunakan set tertentu sehingga setiap gerakan atau tindakannya terarah pada suatu tujuan. Dalam berlatih dan berpraktek terjadi interaksi yang dinamis antara subyek dengan lingkungan. Dalam kegiatan berlatih dan praktek segenap perbuatan subyek terjadi secara integrative dan terarah pada suatu tujuan. Hasil dari pada latihan dan praktek itu sendiri akan berupa pengalaman yang dapat mengubah diri subyek serta mengubah lingkungannya (Wasty Soemanto, 1998:113).
Melihat ungkapan di atas, dapat dipahami bahwa latihan dan praktek atau melatih diri dengan pembiasaan-pembiasaan adalah penting sekali di dalam pendidikan, terutama pendidikan agama, agar agama itu dapat dihayati oleh anak didik di dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak hanya sekedar tahu dan mengerti tetapi dapat berpengaruh kepada diri atau perilakunya sehari-hari.

B. Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Prestasi Belajar
Istilah prestasi belajar merupakan kata majemuk yang tersusun dari kata “prestasi” dan “belajar”. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1989:700) prestasi berarti hasil yang dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya. Selanjutnya, berkaitan dengan belajar dijelaskan bahwa prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Belajar berarti suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingungannya (Slameto, 2003:2). Menurut Ade Rukmana dan Asep Suryana (2006:3) belajar adalah proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Dalam hal ini belajar berarti usaha mengubah tingkah laku (Sardiman, 2008:21). Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang di alami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. (Muhibbin Syah, 2004:89).
Berdasarkan pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah usaha yang dapat dicapai siswa dalam upaya merubah dirinya sehingga melahirkan pengetahuan, kebiasaan, dan sikap yang baru. Dengan adanya proses belajar, akan membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, dan penyesuaian diri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar merupakan rangkaian kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Berarti proses belajar itu menyangkut unsure cipta, rasa, dan karsa, atau ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Berdasarkan kedua pengertian yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar dipergunakan untuk menggambarkan hasil belajar yang telah dicapai atau diperoleh seseorang siswa dalam proses belajar mengajar yang dilakukan secara kesinambungan sehingga dapat adanya perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, kepribadian, kebiasaan, keterampilan, dan pengetahuan.
Setiap kegiatan belajar pada akhirnya akan memperoleh suatu hasil usaha, yaitu hasil belajar atau prestasi belajar untuk mengetahui prstasi belajar siswa dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam menjawab soal yang diberikan oleh guru, sehingga hasil tersebut berguna bagi guru sebagai tolak ukur dalam melaksanakan proses belajar selanjutnya. Jadi prestasi belajar merupakan suatu hasil yang dicapai oleh seseorang melalui pengukuran tertentu yang sengaja dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar orang yang belajar.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar PAI
Suatu belajar yang efisien akan melahirkan hasil yang sangat baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Walaupun demikian, berhasil atau tidaknya kegiatan tersebut tergantung pada faktor dan kondisi yang mempengaruhiya. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya faktor kemampuan besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai.
Keterangan di atas menunjukan bahwa faktor yang datang dari dalam diri siswa mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan belajar. Walaupun demikian, hasil yang diraih oleh siswa itu masih tergantung pada faktor dari luar diri siswa secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa terdiri dari:
a. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa
1) Faktor-faktor fisiologis
2) Faktor-faktor psikologi
b. Faktor yang berasal dari luar diri siswa
1) Faktor-faktor non sosial
2) Faktor-faktor sosial
Selanjutnya Muhibbin Syah (2004:173) menyatakan bahwa faktor dari diri siswa (internal} adalah hal-hal tau keadaan-keadaan yang muncul dari diri siswa itu sendiri, sedangkan faktor dari luar diri siswa (eksternal) adalah hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:
a. Faktor Internal siswa
1) Faktor Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan senfdi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang melemah, apalagi jika disertai pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas (Muhibbin Syah, 2004:132). Menurut Gunawan Undang kondisi fisik atau jasmaniah, seperti kesehatan, struktur dan fungsi jasmaniah yang kurang sempurna, dapat mempengaruhi mentalitas siswa. Siswa yang cacat jasmani karena bawaan sejak lahir, seperti tuna netra, tuli, dan tidak memiliki kaki atau tangan, cenderung akan rendah diri dari pada siswa yang memiliki kondisi fisik normal (1997:12).
Keadaan tonus jasmani pada umumnya dapat melatar belakangi aktivitas belajar, keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Dalam hal ini ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu: 1) penyakit kronis yang di derita karena penyakit akan mengganggu belajar, 2) kebutuhan nutrisi harus dipenuhi, karena kekurangan nutrisi akan mengakibatkan kurangnya konsentrasi dalam belajar. Selain itu, fungsi-fungsi fisiologis perlu mendapat perhatian, dalam hal ini adalah pancaindera. Pancaindera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya seperti mengalami sakit, cacat, atau perkembangannya tidak sempurna akan mengganggu proses belajar mengajar.
Untuk menganggulangi masalah fisik yang tersebut di atas, langkah bijaksana adalah dengan menempatkan siswa yang mempunyai kekurangan fisik (cacat) di bangku yang paling depan. Dan tidak perlu menunjukkan sikap dan alasan (apalagi di depan umum). Langkah bijaksana ini perlu diambil untuk mempertahankan self-esteem dan self confidence siswa-siswa khusus tersebut, kemerosotan self-esteem dan self confidence (rasa percaya diri) seorang siswa akan menimbulkan prustasi yang pada gilirannya cepat atau lambat siswa tersebut akan menjadi underachiever atau mungkin gagal, meskipun kapasitas kognitif mereka normal atau lebih tinggi daripada teman-temannya (Muhibbin Syah, 2004:133).
2) Faktor Psikologis
Kehadiran faktor-faktor psikologis dalam belajar akan memberikan andil yang cukup penting, karena fdaktor psikologis akan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya pencapaian tujuan belajar secara baik. Sebaliknya tanpa factor-faktor psikologis dapat memperlambat proses dan prestasi belajar (Sardiman, 2008:39). Faktor-faktor psikologis yang dipandang lebih esensial adalah: 1) tingkat kecerdasan atau intelegensi siswa, 2} sikap siswa, 3} bakat siswa, 4) minat siswa, 5) motivasi siswa (Muhibbin Syah, 2004:133)
Dengan demikian pennulis dapat menyimpulkan bahwa factor psikologis ini dapat memliki peranan penting karena dapat dipandang sebagai aktivitas yang menunjang terhadap keberhasilan dalam belajar. Untuk lebih jelasnya, faktor psikologis yang mempengaruhi belajar adalah sebagai berikut:
(a) Intelegensi siswa
Menurut Reber dikutip oleh Muhibbin Syah (2004:133) “intelegensi” pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko atau pisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Sedangkan menurut William Stern yang dikutif oleh Abu Ahmadi (2003:87) “intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menuju tujuannya. Dalam hal ini Heidenrich, yang dikutif oleh Wasty Soemanto (1998:142) menyatakan intelegensi adalah menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telahdipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal , atau dalam pemecakhan masalah-masalah Senada dengan pernyataan diatas, William Stern yang dikutif oleh Ngalim Purwanto (2004:52} mengemukakan bahwa intelegensi adalah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya.
Dari pernyataan-pernyataan di atas, bahwa intelegensi adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh seseorang sehingga dapat memeccahkan masalah yang dihadapi dengan cepat dan tepat. Intelegensi besar sekali pengaruhnya terhadap kemajan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Walaupun demikian ,siswa yang mempumyai tingkat intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatau proses kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi salah satu faktor diantara faktor yang lain.
(b) Sikap
Sikap siswa adalah gejala yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relative tetap terhadap objek barang, orang dan sebagainya, baik secara positif dan maupun negatif, Sejalan dengan itu, Slameto (2008:188) menyatakan bahwa sikap kesediaan untuk berespon terhadap suatu situasi. Menurut Ngalim Purwanto (2004:141} sikap adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap sesuatu perangsang atau situasi yang dihadapi.
Dalam hal ini, sikap dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sikap positif dan sikap negatif. Sikap positif siswa terutama terhadap pendidik dan mata pelajaran yang diberikan merupakan pertanda yang baik bagi pencapaian hasil proses belajar siswa. Sebaiknya, sikap siswa terhadap pendidikan dan mata pelajaran akan menimbulkan kesulitan kepada siswa tersebut dalam pencapaian prestasi.
(c) Bakat siswa
Secara umum, bakat adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Muhibbin Syah, 2004:135). Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa bakat adalah potensi atau kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan di masa yang akan datang yang dikembangkan melalui belajar atau latihan. Dan bakat merupakan kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang sebelumnya individu sedikit atau tidaknya dilatih untuk segala sesuatu.
Bakat itu tidak muncul dengan sendirinya tetapi perlu ditemukan dan dikembangkan. Ilmu pendidikan telah mengembangkan metoda tertentu alam pengembangan bakat manusia, baik itu bakat yang biasa maupun bakat khusus yang luar biasa. (Tabrani Rusyan, 1994:164).
(d) Minat siswa
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterkaitan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Djaali, 2008:121). Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2004:136) minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Sealur dengan pernyataan tersebut Slameto (2003:180) menyatakan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan atau suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa minat timbul apabila individu tertarik pada sesuatu, karena sesuai dengan kebutuhan atau merasakan bahwa sesuatu yang dipelajari dirasakan bermakna bagi dirinya. Jadi, belajar dengan minat akan lebih baik daripada belajar tanpa minat.
(e) Motivasi siswa
Motivasi berasal dari kata motif yang berarti segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu (Ngalim Purwanto, 2004:60). Sebenarnya motivasi, yang oleh Eysenck dkk. dirumuskan sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan, intensitas, konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep lain seperti minat, konsep diri, sikap, dan sebagainya (Slameto, 2003:170).
Dari uraian diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa motivasi itu segala sesuatu yang menimbulkan dorongan terhadap individu untuk melakukan suatu perbuatan. Dalam proses belajar mengajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik, atau padanya mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan, dan melaksanakan kegiatan yang berhbungan dengan belajar. Dengan demikian maka proses belajar mengajar akan berhasil dan akan tercapai sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
b. Faktor eksternal siswa
1) Faktor non sosial
Faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa (Muhibbin Syah,2004:138). Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor non sosial yang dapat mempengaruhi prestasi belajar terdiri dari waktu, tempat, keadaan cuaca, dan alat-alat yang digunakan untuk belajar. Semua faktor itu sangat menunjang sekali dalam proses belajar mengajar ataupun prestasi belajar. Karena jika situasi, cuaca, waktu, tempat, dan alat-alat itu tidak memadai ataupun tidak memungkinkan dalam proses belajar mengajar maka besar kemungkinan prestasi belajar tidak akan tercapai.
2) Faktor sosial
Lingkungan sosial di sini termasuk lingkungan sosial sekolah dan siswa. Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf admnistrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Sedangkan lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut. masyarakat seperti tetangga dan teman-teman sepermainan. Lingkungan social yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri (Muhibbin Syah, 2004:137-138).
Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor sosial yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor manusia seperti guru, orang tua, saudara, teman-teman, tetangga, baik mereka yang hadir atau yang tidak hadir dalam proses belajar mengajar.
3) Indikator-indikator Prestasi Belajar Kognitif Siswa
Pada prinsipnya, Pengungkapan hasil belajar idealnya meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian pengungkapan seluruh tingkah laku ranah itu, khususnya ranah siswa sangat sulit (Muhibbin Syah, 2004:150). Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar yang bersipat itangible (tidak dapat diraba). Oleh karena itu, yang dapat dilakukan guru hanyalah mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta, rasa ataupun yang berdimensi karsa.
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran data hasil belajar adalah dengan garis-garis besar indicator (petunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkap atau diukur (Muhibbin Syah, 2004:150). Sealur dengan pernyataan itu, B.S. Bloom menyatakan bahwa hasil belajar yang diukur itu meliputi tiga ranah, yaitu: ranah cognitive domain, psychomotor domain, dan affective domain (Noehi Nasution, 1995:161).
Adapun indikator prestasi belajar kognitif adalah : 1) pengetahuan; 2) ingatan; 3) pemahaman; 4) penerapan; 5) analisis (pemeriksaan dan penilaian); 6) Sintesis (penghayatan) (Muhibbin Syah, 2004:151).
Setelah mengetahui indikator prestasi belajar kognitif siswa, bahwa seorang guru perlu mengetahui kiat menetapkan batas minimal keberhasilan para siswanya. Hal ini penting karena mempertimbangkan batas terendah prestasi siswa yang dianggap berhasil dalam arti luas, bukan perkara mudah. Keberhasilan dalam arti luas berarti keberhasilan yang meliputi ranah cipta, rasa, dan karsa. OLeh karena itu dalam setiap selesai belajar mengajar guru harus mengadakan tes baik secara lisan ataupun tulisan. Dilakukan semacam ini untuk melihat berhasil atau tidak proses belajar mengajar tersebut. Tentunya dengan dilihat evaluasi itu.

C. Madrasah Diniyatul Awaliyah
1. Pengertian Madrasah Diniyatul Awaliyah
Madrasah Diniyatul Awaliyah adalah satuan pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam tingkat dasar dengan masa belajar 4 (empat) tahun, an jumlah jam belajar 18 jam seminggu (Tim Penyusun Pola Pemberdayaan Madrasah Diniyah Jawa Barat, 2005:19)
Madrasah Diniyah adalah salah satu lembaga pendidikan keagamaan pada jalur luar sekolah yang diharapkan mampu secara terus menerus memberikan pendidikan agama Islam kepada anak didik yang tidak terpenuhi pada jalur sekolah yang diberikan melalui system klasikal serta menerapkan jenjang pendidikan yaitu: Madrasah Diniyah Awaliyah, Madrasah Diniyah Wustha dan Madrasah Diniyah Ulya. (Tim Penyusun Pola Pemberdayaan Madrasah Diniyah Jawa Barat, 2005 :18) .Adapun pengertian Diniyatul Awaliyah adalah satuan pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan agama islam tingkat dasar dengan masa belajar 4 (empat) tahun, dan jumlah jam belajar 18 jam seminggu.
Pengertian tersebut sekaligus membedakan antara Madrasah Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah sekalipun pada satu sisi terdapat kesamaan yakni sebagai pendidikan agama Islam tingkat dasar. Perbedaan tersebut terletak bahwa Madrasah Ibtidaiyah merupakan pendidikan formal, meliputi pelajaran agama 30% dan umum 70 % yang umumnya diselenggarakan sejak pagi (sama dengan SD). Sedangkan Madrasah Diniyah merupakan pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh swasta (hasil swadaya masyarakat), hanya berisikan pelajaran agama yang umumnya diselenggarakan selepas pendidikan di SD pada siang hari.
Sealur dengan pendapat di atas Abdurrahman Wahid menyatakan mengenai sistem pendidikan madrasah di Indonesia:
Bahwa sistem pendidikan di Indonesia mempunyai 3 model; 1). Madrasah Diniyah, 2) Madrasah SKB (surat keputusan bersama) tiga mentri, 3). Madrasah Pesantren. Madarasah Diniyah sepenuhnya mengajarkan agama dan diatur oleh keputusan menteri agama tahun 1964. Madrasah ini mengenal 3 jenjang; 1). Madrasah Awaliyah, 2). Madrasah Wustha, 3). Madarasah Ulya (Abdurrrahman Wahid, 1999:196).
Jadi berdasarkan pendapat tersebut di atas maka Diniyatul Awaliyah merupakan dari sub sistem dari sistem pendidikan madrasah di Indonesia yang di dalamnya mempelajari dan mengkaji masalah-masalah keagamaan baik secara teoritis maupun secara praktis. Dan kurikulumnya ditetapkan oleh Departemen Agama.
Dalam hal ini pelajaran-pelajaran Madrasah Diniyah adalah bersifat keagamaan. Muatan Madrasah Diniyah ini lebih didominasi oleh pelajaran-pelajaran atau kajian ala pesantren yang diintensifkan melalui madrasi (Abdurrahman Wahid, 1999:199). Oleh karena itu dari sudut penguasaan ilmu-ilmu keagamaan hasilnya tidak diragukan lagi, akan tetapi madrasah yang semacam ini tidak berijasah formal.
Dengan pendapat tersebut penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pengajaran pendidikan agama atau Madrasah Diniyah itu banyak didominasi oleh pengajaran ala pesantren baik dari Diniyatul Ula, Wustha, dan Ulya. Yang mungkin tidak terlepas dari ciri khas dan sifat independen lembaga atau pesantren tersebut.

2. Tujuan dan fungsi Diniyatul Awaliyah
Tujuan umum madarasah Diniyah adalah sebagai mana tertuang dalam pedoman penyelenggaraannya dan pembinaan Madrasah Diniyah yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pembinaan Agama Islam Departemen Agama RI Tahun 2000. Tujuan tersebut sebagai berikut: ”Pendidikan dan pengajaran pada Madrasah Diniyah bertujuan untuk memberikan tambahan dan pendalaman pengetahuan agama islam kepada pelajar-pelajar yang merasa kurang menerima pelajaran agama di sekolah umum” (Tim Penyusun Pola Pemberdayaan Madrasah Diniyah Jawa Barat, 2005 :22).
Berdasarkan tujuan umum tersebut lebih lanjut dirumuskan dalam tujuan institusional yang dapat dispesifikan berdasarkan bidang pengetahuan, pengalaman, nilai dan sikap, sebagai berikut:
a) Dalam bidang pengetahuan agar siswa memiliki pengetahuan tentang agama Islam dan bahasa Arab sebagai alat untuk memahami ajaran Islam.
b) Dalam bidang pengamalan agar siswa dapat mengamalkan ajaran agama islam, dapat belajar dengan cara yang baik dan dapat bekerja sama dengan orang lain serta dapat menggunakan bahasa Arab.
c) Dalam bidang nilai dan sikap agar siswa dapat memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap ajaran islam; baik bagi dirinya, agamanya, sosial dan budaya sekitarnya.
Secara simpel, tujuan pendidikan Madrasah Diniyah menurut Ahmad Tafsir (wawancara, 12/10/2002) ada tiga, sebagai berikut:
a) Agar peserta didik memiliki akhlak yang baik.
b) Agar peserta didik mampu shalat.
c) Agar peserta didik mampu membaca dan menulis Al-Quran (Tim Penyusun Pola Pemberdayaan Madrasah Diniyah Jawa Barat, 2005 :22).
Dasar dari tujuan madrasah diniyatul awaliyah ini sama dengan tujuan madrasah diniyatul pada tingkat sesudahnya (Wustha dan Ulya) yaitu di samping sebagai tuntutan secara normatif juga sebagai tuntutan dari orang tua dan kebutuhan masyarakat yang memang mengarah pada tiga tujuan yang telah dikemukakan di atas. Maka dari itu secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Aspek keterampilan bahasa Arab dimungkinkan anak dapat membaca dan menulis Al-Quran.
b) Aspek pengetahuan dan pengalaman agar anak dapat menguasai dan mengamalkan ajaran Islam.
c) Aspek sikap, dengan terbiasanya anak berakhlkul karimah dalam kehidupan sehari-hari. (Tim Penyusun Pola Pemberdayaan Madrasah Diniyah Jawa Barat, 2005 :22-23 dengan mengalami sedikit perubahan seperlunya).
Selain mempunyai tujuan, Diniyatul Awaliyah pun mempunyai fungsi yang sangat vital. Adapun Fungsi Madrasah Awaliyah di antaranya:
a) Menyelenggarakan pendidikan agama Islam yang terdiri dari Al-Quran, hadits, tajwid, aqidah akhlaq, fiqh, sejarah kebudayaan Islam, bahasa Arab dan praktik ibadah.
b) Memenuhi kebutuhan masyarakat akan tambahan pendidikan agama Islam terutama bagi siswa yang belajar pada sekolah dasar.
c) Memberikan bimbingan dalam pelaksanaan pengamalan ajaran agama Islam.
d) Membina hubungan kerja sama dengan orang tua, warga belajar dan masyarakat.
e) Melaksanakan tata usaha dan rumah tangga pendidikan serta perpustakaan.
(Tim Penyusun Pola Pemberdayaan Madrasah Diniyah Jawa Barat, 2005 :24).

C. Pendidikan Agama Islam Sebagai Salah Satu Mata Pelajaran SD
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Apa pendidikan itu? Marimba (Ahmad Tafsir, 2004:24) menyatakan bahwa; “pendidikan adalah bimbingan ataupun pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”. Sedangkan menurut Ahmad Tafsir (2004:26): Pendidikan ialah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud pengembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, dan pendidikan oleh orang lain (guru). Seluruh aspek mencakup jasmani, akal, dan hati.
Dari penjelasan dia atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan itu dibagi ke dalam tiga macam, yaitu pendidikan di dalam rumah tangga, di amsyarakat, dan di sekolah.
Menyoroti kajian pendidikan Islam, Ahmad Tafsir (2004:32) mengemukakan bahwa; “pendidikan Islam ialah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam”. Selanjutnya pendefinisian yang lain secara umum mengemukakan bahwa: Pendidikan agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. (Standar Isi PAI SD/MI, 2006:1).
Berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam, menurut Ditbinpaisun yang dikutip oleh Zakiah Daradjat (2000:88) menyatakan bahwa: Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung di dalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuannya dan pada akhirnya dapat mengamalkannya serta menjadikan ajaran-ajaran Agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhiratnya kelak.
Dengan definisi di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha bimbingan atau asuhan untuk mentransformasikan nilai-nilai religius kepada anak didik secara sistematis, sehingga dapat mengamalkannya serta menjadikan agama Islam yang telah diantnya sebagai pandangan hidup, sehingga mendatangkan keselamatan di dunia dan akhirat.

2. Dasar Hukum PAI
Belajar adalah proses yang harus dan dituntut ada dalam diri manusia. Dengan belajar, manusia akan lebih baik, tidak terjebak pada kesalahan atau kegagalan yang sama, cerdas, bijak, adil, taat kepada Allah SWT., juga mendapat sejuta kebaikan lainnya (Muhammad Alim, 2006:3).
Pendidikan Agama Islam dilakukan untuk mempersiapkan peserta didik meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam. Pendidikan tersebut melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah dasar mempunyai dasar yang yang sangat kuat. Dasar tersebut dapat ditinjau dari berbagai aspek (Muhammad Alim, 2006:4-6), yaitu:
a) Dasar Yuridis
Dasar pelaksanaan pendidikan agama berasal dari perundang-undangan yang secara tidak langsung dapat menjadi pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama di sekolah secara formal. Dasar yuridis formal tersebut terdiri atas:
1) Dasar ideal, yaitu falsafah Negara Pancasila, sila pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa.
2) Dasar Struktural atau konstitusional, yaitu UUD 1945 dalam bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2, yang berbunyi: (1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.
3) Dasar operasional yang terdapat dalam Tap. MPR No. IV/MPR/1999 dalam konteks pembangunan nasional yang merupakan visi baru dengan isinya sebagai berikut; trewujudnya masyarakat baru yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, sejahtera. Perwujudan masyarakat baru demikian adalah masyarakat Indonesia yang sehat jasmani dan ruhani, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, sadar hokum an lingkungan, menguasai IPTEK, mempunyai etos kerja tinggi dan berdisiplin.
(Sambutan Gubernur Jawa Barat dalam Buku Pola Pemberdayaan Madrasah Diniyah di Jawa Barat, 2005:xvi).

b) Dasar Religius
Yang dimaksud dengan dasar religius adalah dasar yang bersumber sari ajaran Islam. Menurut ajaran Islam pendidikan agama adalah perintah Tuhan dan merupakan perwujudan ibadah kepada-Nya. Dalam Al-Quran banyak ayat yang menunjukkan perintah tersebut, antara lain:
(1) Al-Quran surat An-Nahl ayat 125:
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (Q.S. An-Nahl: 125).
(2) Al-Quran surat Ali Imran ayat 104:
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar…” (Q.S. Ali Imran: 104).
(3) Al-Quran surat Al-Mujadalah ayat 11:
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...” (Q.S. Al-Mujadalah: 11)
(4) As-Sunnah Rasulullah SAW: “Sampaikanlah ajaran kepada orang lain walaupun hanya sedikit saja”.
c) Dasar Psikologis
Dasar psikologis yaitu dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan bermasyarakat. Hal ini didasarkan bahwa dalam kehidupannya, manusia baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat dihadapkan pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang dan tidak tenteram akibat dari rasa frustasi (tekanan perasaan), konflik (adanya pertentangan batin), dan kecemasan sehingga memerlukan adanya pegangan hidup (agama). Kebutuhan agama sangat erta hubungannya dengan manusia untuk menciptakan hidup bahagia, sebab banyak sekali kenyataan-kenyataan yang apat kita lihat, misalnya seseorang yang dalam segi kebutuhan materialnya terpenuhi, tetapi tidak diimbangi dengan kesiapan mental yang cukup, maka hal tersebut akan menambah beban kehidupan belaka atau sebaliknya. Oleh sebab itu kondisi manusia pada hakikatnya menuntut agar semua kebutuhan-kebutuhan itu dapat dipenuhi dalam rangka mewujudkan hidup yang harmonis, dan bahagia termasuk juga kebutuhan rohani seseorang terhadap agama. Untuk membuat hati tenang dan tenteram ialah dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal ini sesuai dengan firman allah dalam surat Al-Ra’du ayat 28, yaitu:
Artinya: “Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Q.S. Ar-Ra’du:28).

3. Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Dalam kamus Webster tahun 1856 (Ahmad Tafsir, 2004: 53); “istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran di suatu perguruan”. Dalam kamus tersebut kurikulum diartikan dua macam, yaitu:
1) Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari siswa di sekolah atau perguruan tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu.
2) Sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau jurusan.
Pengertian diatas menimbulkan paham bahwa dari sekian banyak kegiatan dalam proses pendidikan di sekolah, hanya sejumlah mata pelajaran (bidang studi) yang ditawarkan itulah yang disebut kurikulum. Kegiatan belajar, selain yang mempelajari mata-mata pelajaran itu, tidak termasuk kurikulum. Padahal, sebagaimana yang diketahui sejauh ini, kegiatan belajar di sekolah tidak hanya kegiatan mempelajari mata pelajaran. Mempelajari mata pelajaran hanyalah salah satu kegiatan belajar di sekolah (Ahmad Tafsir, 2004: 53).
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan prduktif, baik personal maupun social. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetensi sesuai dengan jenjang persekolahan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:
a. Lebih menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi;
b. Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia;
c. Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya pendidikan. (Standar Isi PAI SD/MI, 2006:1).
Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.
Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan tidak beraturan. Peran semua unsure sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam (Standar Isi PAI SD/MI, 2006:2).
a) Tujuan
Pendidikan Agama Islam di SD/MI bertujuan untuk:
(1) Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengamalan peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
(2) Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.
(Standar Isi PAI SD/MI, 2006:2).
b) Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pendidikan agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
(1) Al-Quran dan Hadits
(2) Aqidah
(3) Fiqih
(4) Tarikh dan Kebudayaan Islam (Standar Isi PAI SD/MI, 2006:2).
Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara hubungan manusia dengan allah SWT, hubungan dengan sesame manusia,hubungan manusia dengan diri sendiri, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Pendidikan Agama Islam merupakan cakupan dari kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia yang dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang breiman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, dan budi pekerti atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
Di dalam struktur kurikulum SD/MI (Standar Isi PAI SD/MI, 2006:8) bahwa pada setiap tingkatan kelas dialokasikan waktu 3 jam pelajaran perminggu dimana 1 jam pelajaran adalah 35 menit.

E. Hubungan Aktivitas Siswa dalam Mengikuti Kegiatan Madrasah Diniyatul Awaliyah dengan Prestasi Belajar Mereka Pada Mata Pelajaran PAI
Aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan Madrasah Diniyatul Awaliyah akan ditekankan pada peningkatan kekuatan atau kesungguhan siswa dalam proses belajar mengajar. Adapun manipestasi aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan Madrasah Diniyah Awaliyah tersebut dapat dilihat dalam nilai raport, dapat membaca dan menulis Al-Quran, melaksanakan ibadah wajib, melaksanakan ibadah sunat, hapalan surat-surat pendek, hafal doa sehari-hari dan mengamalkannya, berperilaku terpuji terhadap orang tua, guru, dan teman-teman.
Bila kesungguhan siswa dalam mengikuti kegiatan Madrasah Diniyatul Awaliyah (MDA) telah muncul, maka dengan sendirinya hasil yang dicapai belajar siswa ketika proses belajar mengajar pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di kelas (SD) akan baik. Materi-materi yang akan diajarkan di kelas itu tidak asing lagi bagi mereka, karena mereka sudah mendapatkan itu semua dalam MDA. Ketika test atau pengujian prestasi belajar pendidikan agama Islam dilaksanakan, mereka dapat mengerjakannya dengan mudah, sehingga pada waktu dilaporkan hasilnya oleh guru, siswa mendapat hasil atau prestasi belajar tergolong tinggi.
Sementara itu keberhasilan anak di sekolah akan dipengaruhi berbagai faktor. faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu faktor interen dan manifestari motivasi belajar. Aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan MDA merupakan hal penting yang harus dimiliki siswa agar proses belajar yang dilakukan di sekolah dapat menghasilkan prestasi belajar yang tinggi.
Dengan demikian prestasi belajar siswa, baik dalam baik dalam pengetahuan kognitif, afektif maupun psikomotor akan dapat diraih manakala siswa melakukan kegiatan belajar secara optimal, penuh kedisiplinan, kesungguhan, dan minat yang besar serta memiliki motivasi yang kuat. Oleh itu dapat dipahami bahwa aktivitas belajar seseorang yang ditandai dengan adanya kesungguhan belajar disertai minat dan motivasi yang tinggi memiliki hubungan terhadap pencapaian belajar itu.
Adapun proses ketrkaitan antara siswa dalam mengikuti kegiatan Madrasah Diniyah Awaliyah dengan prestasi belajar, yaitu bahwa dalam kegiatan Madrasah Diniyah Awaliyah siswa diberikan dengan berbagai materi agama Islam. Tentunya didukung oleh kemampuan guru yang baik serta unsure-unsur lain yang memadai, akan menunjang terhdap kelancaran pencapaian tujuan Madrasah Diniyah Awaliyah itu sendiri. Kondisi demikian ditanggapi siswa dengan tanggapan baik, sehingga timbul nantinya perasaan ketertarikan siswa dalam mengikuti kegiatan Madrasah Diniyah Awaliyah. Perasaan ketertarikan itu secara intens (sungguh-sungguh), kemudian diwujudkan siswa dengan aktifnya dalam setiap kegiatan pelajaran yang diajarkan oleh guru.
Dari uraian di ats nampak bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan Madrasah Diniyatul Awaliyah ada keterkaitannya dengan prestasi belajar mereka pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Maka semakin tinggi aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan Madrasah Diniyatul Awaliyah maka semakin tinggi pula prestasi belajar mereka pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.


DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi. (2003). Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati. (1991). Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Abdurrahman Wahid. (1999). Pesantren Masa Depan. Bandung: Pustaka Hidayah.

Ade Rukmana dan Asep Suryana. (2006). Pengelolaan Kelas. Bandung: UPI PRESS.

Ahmad Tafsir. (2004). Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosdakarya.

Cecep Sumarna. (2004). Filsafat Ilmu. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Djaali. (2008). Psikolog Pendidikani. Jakarta: Bumi Aksara.

Dahar, R.W.L. (1996). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Dinas Pendidikan. (2006). Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah Mata Pelajaran Agama Islam. Tidak diterbitkan.

E.Mulyasa. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya.

E.Mulyasa. (2003). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Rosdakarya.

Gunawan Undang. (2006). Bimbingan Dan Konseling. Bandung: Siger Tengah.

Muhibbin Syah. (2004). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya.

Muhammad Alim. (2006). Pendidikan Agama Islam . Bandung: Rosdakarya.

Nanang Fatah. (2004). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

Ngalim Purwanto. (2004). Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

Noehi Nasution. (1995). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sardiman.. (2008). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta. Rajagrafindo Persada.

Slameto (2003). Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana. (2005).Metoda Statistik. Bandung: Tarsito.

Sufyani Prabawanto dan Mujono. (2006). Analisis Data Dan Peluang. Bandung: UPI PRESS.

Suharsimi Arikunto. (1995). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto. (2003). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Tabrani Rusyan. (1994). Pndidikan Masa Kini Dan Mendatang. Jakarta: Bumi Mulia.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa. (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim Penyusun Pola Pemberdayaan Madrasah Diniyah Jawa Barat. (2005). Pola Pemberdayaan Madrasah Diniyah Di Jawa Barat. Bandung: Pemerintah Propinsi Jawa Barat.

Wahana Anak Bangsa. (2003). Sistem Pendidikan Nasional 2003 Beserta Penjelasannya. Bandung: Wahana Anak Bangsa.

Wasty Soemanto. (1988). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Zakiah Darajat (2006). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan saran saya tunggu